Penyerahan bantuan akte kelahiran

Rm. Pranowo bersama relawan Paguyuban Pondok Maria Fatima berkunjung dan menyerahkan akte kelahiran pada sebuah keluarga.

Rekoleksi Bersama

Program peningkatan iman, semangat, dan kasih persaudaraan dengan weekend rekoleksi bersama

Bantuan Beasiswa

Relawan Paguyuban Pondok Maria Fatima menyerahkan bantuan beasiswa bagi umat Banyumanik yang sangat membutuhkan.

Rapat Koordinasi

Rapat Koordinasi para relawan Paguyuban Pondok Maria Fatima bersama Rm. Pranowo Pr.

Kunjungan keluarga

Tim kunjungan Pondok Maria Fatima berkunjung dan membangun silaturahmi ke salah satu keluarga di Banyumanik.

Rapat Mingguan Relawan

Bagi mereka yang ingin terlibat untuk kegiatan pemberdayaan kaum papa miskin, lemah, tersingkir, dan difabel secara konkrit, silakan hadir dalam rapat mingguan di Ruang Dewan setiap Hari Rabu malam.

AWUL-AWUL: Sarana berbagi berkat

kegiatan penjualan pakaian pantas pakai (awul-awul): sarana untuk berbagi berkat

Pages

Senin, 30 November 2015


Senin, 09 November 2015

Awul-Awul Life












Selasa, 03 November 2015

MEMETIK PENGALAMAN ROHANI dari ‘NGAWUL’

ppmf
Hari Minggu Tanggal 1 November 2015 kami para laskar PPMF sudah siap di Gereja pukul 04.00 dini hari. Kegiatan pagi itu adalah ‘ngawul’ (menjual pakaian pantas pakai) sumbangan dari para umat yang peduli.Diawali dengan doa bersama di depan Patung Bunda Maria Fatima, kami mohon penyertaan Tuhan dan pendampingan Bunda Maria Fatima. Kegiatan ‘ngawul’ kali ini tidak didampingi oleh Romo Emanuel Maria Supranowo Pr, Romo pendamping PPMF, karena beliau ada tugas yang lainnya.

Hari masih pagi dan masih tampak gelap, tapi kami
ppmf
sudah menggelar barang dagangan di Pasar Karangayu. Masih sepagi itu sudah ada pembeli yang datang dan semakin siang semakin bertambah banyak yang datang.Awalnya kami bersemangat menawarkan dengan harga yang sudah disepakati untuk tiap jenis pakaian yang dijual. Tetapi dengan harga itupun pembeli masih juga menawar sampai harga yang sangat rendah.

Yaahh… saya terpana melihat keadaan seperti itu. Meskipun tujuan kami untuk mengumpulkan dana untuk kegiatan PPMF dalam membantu orang yg
ppmf
berkekurangan, tetapi mereka yang membelipun sebagian besar adalah masyarakat kelas bawah, dan bahkan kondisi mereka ada yang benar-benar tidak mampu untuk membayar meskipun sudah memilih-milih pakaian, karena uang yang dimiliki juga sangat terbatas. Akhirnya kami menjadi lebih luwes dalam memberikan harga, tidak mematok harus laku dengan harga yang disepakati, dan tidak lagi menargetkan penjualan dengan perolehan dana sebanyak-banyaknya….

Sekitar jam 7 pagi dagangan kami sudah mulai menipis, dan kami segera berkemas untuk pulang.Hari itu kami peroleh dana Rp 600.000,- cukup banyak untuk kegiatan sekitar 3 jam. Saya
ppmf
berpikir jika bukan karena mencari dana untuk PPMF, rasanya saya ingin membagi-bagikan saja pakaian pantas pakai itu kepada orang yang membutuhkan. Jadi ‘harga’ bukan menjadi harga mati, dan dengan ‘ngawul’ kita bisa melakukan 2 (dua) kebaikan sekaligus untuk membantu sesama kita.

Saya teringat pesan Romo Emanuel Supranowo Pr, bahwa gerakan PMF ini supaya menjadi luwes, mengalir saja, kita ikuti arahnya, tidak hanya berhenti dengan mengumpulkan barang bekas, mengelola dan menjualnya saja, tetapi juga sebagai sarana untuk membangkitkan martabat manusia dan kepedulian terhadap sesama.

ppmf
Hari itu sungguh sangat berkesan bagi saya, karena saya boleh memetik pengalaman rohani dari kegiatan ‘ngawul’, saya boleh merasakan dan melihat dengan hati saudara kita yang perlu dipedulikan. Terima kasih Romo Emanuel Supranowo Pr yang telah mengajarkan kepada kami untuk selalu ‘peduli’. Terima kasih Tuhan…. Semoga para laskar PPMF tidak akan pernah berhenti untuk mengasihi dan peduli kepada sesama.

Oleh : Krismastuti

Jumat, 30 Oktober 2015

Profil Bapak Medardus Sadjarwo

ppmfMengenal sosok Bapak Djarwo… begitu panggilan akrabnya, terkesan beliau ini pendiam dan sedikit berbicara, namun tegas dalam tindakan, dan punya semangat yang luar biasa untuk ambil bagian dalam pelayanan, terutama sebagai laskar PPMF.
Beliau termasuk salah satu orang yang tergerak hatinya oleh Homili Romo Emanuel Maria Supranowo Pr, tentang ajakan untuk bergabung bersama untuk bisa mewujudkan kepedulian dan bisa menyentuh langsung kepada saudara kita kaum KLMTD.
Pada awal pertemuan atas ajakan Romo tersebut hanya dihadiri oleh 7 (tujuh) orang, salah satunya adalah Bapak Djarwo, Hingga sampai saat ini beliau masih tetap setia dan memegang komitmen untuk peduli dan melayani dengan tulus hati dan terlibat aktif sebagai laskar PPMF.

ppmfPak Djarwo telah pensiun beberapa waktu yang lalu, banyak waktu luangnya, maka beliau benar benar total terlibat dalam PPMF.
Dengan melibatkan diri sebagai laskar PPMF bahkan dengan terlibat aktif mengambil rongsok, memilah rongsok, kegiatan ngawul (jual pakaian bekas) dan kegiatan lainnya itu telah membuatnya bersemangat dan merasa sehat, bahkan bertemu dan berkumpul bersama sesama laskar membuatnya senang dan bahagia.
Terlebih atas dukungan sang istri tercinta Ibu V. Purwani, bapak dengan 2 orang putri yang sudah bekerja sebagi guru SMA di Jakarta dan di Kantor Pajak, beliau semakin memantapkan dirinya untuk menjadi bagian dari PPMF untuk bisa mewujudkan suatu bentuk pelayanan kasih bagi saudara kita yang membutuhkan dan perlu diperhatikan.
Tapi saya berpesan pada Pak Djarwo: tetap jaga kesehatan dan tetap menomorsatukan keluarga, disamping tetap menjalankan tugas pelayanan dengan penuh semangat, tulus iklas dan penuh kasih. 
Kita bersama wujudkan ajakan Romo Emanuel Supranowo Pr. untuk bisa ‘memanusiakan sesama’.
Hidup Laskar PPMF…!



Oleh : Krismastuti

Kamis, 29 Oktober 2015

Profil Laskar PPMF

Profil Ibu Heru



ppmf
Ibu Heru siap meluncur dengan 'belalang tempur' nya
Ibu Sugeng Saronto… begitu saya memanggilnya. Nama aslinya Maria Rosari Heru. Ibu berusia 54 tahun tepat tanggal 10 Oktober yang lalu ini, berputera 5 orang dan telah dikaruniai 2 orang cucu. Beliau merupakan sosok yang tidak mengenal lelah dan selalu semangat dalam keterlibatannya pada Paguyuban Pondok Maria Fatima (PPMF) sebagai relawan.

Kami yang tergabung dalam PPMF menyebut diri kami sebagai Laskar PPMF… yaa… laskar atau pasukan PPMF yang berkomitmen bekerja dengan sukarela dan tulus iklas untuk ‘memanusiakan sesama’ (istilah dari Romo Pendamping Romo EM. Supranowo Pr.).

Laskar PPMF yang satu ini semangatnya sungguh luar biasa, tiap hari bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi relawan, mengambil rongsok, memilah rongsok, kegiatan ngawul (menjual pakaian pantas pakai), dan kegiatan lainnya, ibu ini pasti terlibat aktif.

Bahkan setiap hari setelah pekerjaan rumah tangganya selesai beliau bersedia bekerja di ‘Base Camp’ PPMF, yang dia sebut sebagai ‘kantor’ nya.

Sungguh luar biasa apa yang pernah disampaikan kepada saya: “Saya tidak punya apa-apa yang bisa diberikan untuk membantu sesama yang membutuhkan, tetapi saya punya tenaga dan saya mau membantu sesama dengan tenaga yang saya miliki“.

Beliau mengatakan pula bahwa sangat bahagia dan dengan sukacita bekerja di ‘kantor’ nya, karena berbeda dengan Paguyuban lain yang diikutinya… Beliau merasa menjadi berguna untuk orang lain.

Itulah sosok yang membuat saya bangga, di usianya, di tengah tugasnya, disela kesibukannya masih tetap semangat dan sukacita dengan tulus ikhlas melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Laskar PPMF… selamat berjuang dalam penyertaan Bunda Maria Fatima… Tuhan Yesus memberkati…

 Oleh : Krismastuti